Sitti Nurbaya - Kasih Tak Sampai

Judul                         : Sitti Nurbaya – Kasih Tak Sampai
Pengarang               : Marah Rusli
Penerbit                   : Balai Pustaka
Tahun Terbit           : 2009
Jumlah Halaman   : 364 Halaman

Dikisahkan percintaan seorang gadis bernama Sitti Nurbaya dengan seorang pemuda bernama Samsul Bahri yang saling mencintai. Sitti Nurbaya merupakan putri seorang pedagang kaya bernama Bagindo Sulaiman, sedangkan Samsul Bahri adalah putra Sutan Mahmud, seorang penghulu di Padang. Hubungan cinta keduanya harus terpisah karena Samsul Bahri melanjutkan pendidikan dokter ke Jakarta.

Namun, cinta mereka terhalang oleh kehadiran Datuk Maringgih, seorang saudagar kaya yang kikir dan licik di Padang. Datuk Maringgih melakukan tipu muslihat dengan meminjamkan uang kepada Bagindo Sulaiman hingga membuatnya jatuh miskin dan tidak mampu melunasi utangnya. Karena hal tersebut, Datuk Maringgih melaporkan Bagindo Sulaiman kepada pemerintah Belanda hingga akhirnya ia dipenjara. Datuk Maringgih kemudian memberikan pilihan agar Bagindo Sulaiman dibebaskan dari penjara dengan syarat Sitti Nurbaya bersedia dinikahi olehnya. Demi menyelamatkan ayahnya, Sitti Nurbaya rela menikah dengan Datuk Maringgih tanpa paksaan dari Bagindo Sulaiman.

Samsul Bahri kemudian memutuskan untuk menjadi seorang opsir Belanda. Dalam tugasnya, ia dikirim ke Padang untuk memadamkan sebuah pemberontakan. Di medan inilah Samsul Bahri akhirnya berhadapan dengan pemberontak yang dipimpin oleh Datuk Maringgih. Dalam pertempuran tersebut, Datuk Maringgih tewas, sedangkan Samsul Bahri meninggal dunia setelah dirawat di rumah sakit. Sementara itu, Sitti Nurbaya telah lebih dahulu meninggal karena diracun oleh Datuk Maringgih.

Hingga kini, di kawasan Gunung Padang terdapat lima makam yang berjejer. Makam tersebut merupakan makam Bagindo Sulaiman, Sitti Nurbaya, Samsul Bahri, Sitti Maryam (ibu Samsul Bahri), dan Sutan Mahmud (ayah Samsul Bahri).

Secara keseluruhan, novel Sitti Nurbaya karya Marah Rusli menyajikan kisah klasik yang sarat akan nilai moral, sosial, dan budaya. Melalui alur cerita yang menyentuh serta tokoh-tokoh yang kuat, pembaca diajak memahami dampak buruk keserakahan, ketidakadilan, dan benturan antara cinta dengan adat serta kekuasaan. Nilai yang dapat dipetik dari kisah ini adalah bahwa sifat tamak dan serakah pada akhirnya akan mendatangkan ganjaran yang setimpal bagi pelakunya.

Karya ini sangat relevan untuk dibaca oleh peserta didik karena tidak hanya memperkaya wawasan sastra Indonesia, tetapi juga menumbuhkan sikap kritis dan empati terhadap realitas sosial yang digambarkan dalam cerita.

Penulis: Lucia Dewi Nusantara, S.Pd., Guru SMP Santa Maria Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Out

Popular Posts

Fiksi

Sitti Nurbaya

Sitti Nurbaya – Kasih Tak Sampai Judul                         : Sitti

Read More »
Fiksi

Lupus ABG

Lupus ABG – Bukan Sakit Biasa Judul                         : Lupus

Read More »
Fiksi

KERING

Kering Judul                         : KeringPengarang           

Read More »