Autobiografi Tan Malaka: Dari Penjara Ke Penjara

Judul                      : Autobiografi TAN MALAKA – DARI PENJARA KE PENJARA
Pengarang            : Tan Malaka
Penerbit                : Penerbit Narasi
Tahun Terbit         : 2008
Jumlah halaman : 560 halaman

Buku ini mengangkat kisah hidup seorang pahlawan nasional yang namanya belum begitu akrab di telinga banyak orang. Tan Malaka adalah sosok revolusioner yang memiliki pengaruh besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Melalui autobiografi ini, ia menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh risiko—berpindah dari satu negara ke negara lain bukan untuk berwisata, melainkan karena harus menghadapi pemenjaraan. Ia pernah ditahan di penjara Hindia Belanda, Filipina, Hong Kong, hingga di tanah kelahirannya sendiri, Indonesia.

Menariknya, pengalaman keluar-masuk penjara tidak membuat semangatnya surut. Justru dari balik jeruji besi, Tan Malaka terus menyalakan api perjuangan. Ia berupaya membangkitkan kesadaran rakyat agar tidak menyerah melawan penjajahan. Baginya, kemerdekaan bukan sekadar slogan, melainkan hak yang harus diperjuangkan dengan keberanian dan pengorbanan. Semangat itulah yang kemudian menjadi bagian dari gelombang besar perjuangan bangsa menuju kemerdekaan dari Sabang sampai Merauke.

Dalam Bagian I Bab 2 (halaman 20–22) tentang “Hak Manusia”, Tan Malaka menegaskan bahwa kemerdekaan berarti kebebasan untuk hidup layak—mencari nafkah dengan bertani, berdagang, atau bekerja tanpa tekanan dan ketidakadilan. Ia juga mengingatkan agar bangsa yang telah merdeka tidak terjebak dalam praktik feodalisme, yaitu pola hubungan yang menempatkan pihak tertentu merasa lebih berkuasa dan berhak mengatur yang lain secara semena-mena. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini bisa terlihat ketika senior merasa berhak memperlakukan junior sesuka hati, atau ketika karyawan dipaksa mengurus kepentingan pribadi atasan di luar tanggung jawab pekerjaannya.

Selanjutnya, pada Bagian I Bab 3 (halaman 23–26) dan Bab 4 (halaman 27–30), dibahas tentang hak manusia untuk hidup aman dan memperoleh perlindungan hukum. Tan Malaka menyoroti adanya jarak antara aturan yang tertulis dan kenyataan di lapangan. Hukum sering kali tidak benar-benar melindungi rakyat kecil atau mereka yang memperjuangkan keadilan. Tanpa kepastian hukum, masyarakat menjadi rentan terhadap perlakuan sewenang-wenang, dan hak-hak dasar mudah dilanggar.

Melalui gagasan-gagasannya, Tan Malaka mengingatkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak berhenti setelah penjajah pergi. Kemerdekaan sejati harus diwujudkan melalui sistem hukum yang adil dan berpihak pada rakyat. Tanpa itu, kehidupan yang damai dan bermartabat akan sulit tercapai.

Buku ini pada akhirnya mengajak pembaca untuk memahami bahwa kemerdekaan membutuhkan keberanian, kesadaran, dan komitmen untuk menegakkan keadilan. Perlindungan terhadap hak hidup dan martabat manusia menjadi fondasi utama bagi tegaknya bangsa yang benar-benar merdeka.

Penulis: Denzel Johanes Wijono, Siswa Kelas X SMA Santa Maria Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Out

Popular Posts

Filsafat

The Analects

The Analects Judul Buku              : The Analects Pengarang             

Read More »